Lamut Dalam Perjalanannya di Era Global

Lamut memang tidak sepopuler "Mamanda" yang terkenal karena John Tralala beserta anaknya Hendra trilili -begitulah sang bapak memperkenalkan nama untuk sang anaknya pada suatu ketika di acara "Bandjarbaroe Tempoe Doeloe" yang diadakan Front 1 Banjarbaru tempo lalu. Keberadaan kesenian khas daerah Kalimantan Selatan ini seolah-olah hanya menjadi sebuah nama saja. Peranan pemerintah sebagai mediator dalam pelestarian budaya terkesan sangat lamban. Memang perlu sebuah keberanian dan tekad serta pengorbanan yang cukup besar untuk dapat mengangkat kembali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Lamut -dan tentunya modal yang tidak sedikit pula-. Peran serta masyarakat secara umum dan generasi muda pada khususnya juga merupakan faktor yang paling vital dalam rangka ikut melestarikan budaya ini.

Berbagai kegiatan pun akhirnya diselenggarakan. Salah satunya yaitu forum diskusi yang bertajuk Diskusi dan Revitalisasi Sastra Lisan "Lamut" dengan tema "Sebagai Wujud Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Seni dan Budaya Indonesia yang Maju, Dinamis, Cerdas dan Berwawasan. TIdak tanggung-tanggung, acara ini di bawah label Depbudpar RI. Lamut pun akhirnya terperhatikan, Kai Djamhar pun bisa tersenyum di balik keriput pipinya yang masih enak untuk dilihat.

Djamhari beliau bernama, Kai Djamhar saya menyebutnya. Beliau adalah seorang pewaris yang merupakan garis keturunan pencipta Lamut. Kesenian ini sudah lahir pada tahun 1816 dan merupakan salah satu sastra lisan yang menggunakan bahasa Banjar yang patut untuk diteliti keberadaannya secara spesifik.

Dilain waktu akan kita bahas kesenian ini secara lebih detail


31 Oktober 2008

Tekicak is Back


Salam Frontier...!!!

Setelah beberapa bulan istirahat, Teater Kisah Kocak (Tekicak) akhirnya datang kembali menghibur dan meramaikan kota Banjarbaru.

Sanggar Sang Fajar SMKN2 Banjarbaru bekerja sama dengan Sanggar Ketapang, Sanggar X-Surya serta sanggar-sanggar lainnya, di bawah asuhan Gerombolan Anak Bawah Ketapang - Front Budaya Godong Kelor (Front 1 Banjarbaru) kembali menyelenggarakan Teater Kisah Kocak (Tekicak) di Taman Air Mancur, Kota Banjarbaru. Tema cerita yang disampaikan kali ini masih seputar kehidupan Mc. Adut dan kawan-kawan di desa Guntung Rongkang. Bercerita tentang Pambakal (Kepala Desa) yang sengaja menaikkan ongkos pembuatan KTP hanya untuk menambah modal untuk mendekati seorang gadis incaran si Pembakal, padahal si Pembakal sudah memiliki isteri. Tapi tentu saja pada akhirnya kelakuan si Pembakal diketahui oleh Mc. Adut dan teman-temannya sekampung. Bukan itu saja Si Pembakal juga harus berhadapan dengan isterinya sendiri.

Cerita tadi tentu saja disajikan dengan suasana kocak dan penuh canda. Keseriusan yang disampaikan mampu diapresiasikan penonton sebagai sebuah tontonan yang menghibur dan mengocok perut. Maka gelak tawa pun pecah membelah ramainya suara-suara knalpot kendaraan bermotor.

Apresiasi yang ditampilkan oleh segerombolan anak-anak muda di Taman Air Mancur ini merupakan sebuah karya yang tentunya harus menjadi perhatian bagi kita semua. Walaupun terkesan sederhana tapi keberadaan mereka sudah mampu membuktikan bahwa denyut nadi berkesenian di Kota Banjarbaru akan terus hidup. Keberanian mereka bersaing di tengah ramainya pergaulan anak-anak muda sekarang, patut di acungi jempol. Mereka tidak malu bersaing dengan para skater atau dancer. Apa yang dilakukan mereka menunjukkan suatu harapan besar akan sebuah kehidupan seni dan budaya di Banjarbaru

Semoga kegiatan ini dapat terus menjadi sebuah ikon baru bagi Kota Banjarbaru dan dapat membantu pemerintah kota di bidang pariwisata.

26 Oktober 2008

Persiapan Pembentukan

Salam Frontier

Menelusuri Kota Banjarmasin pada bulan kedua. Banyak hal yang baru di sini, walaupun kenyataannya lama. Ternyata antusias para pemuda dengan budaya di kota ini cukuplah besar, hanya saja sebagian dari mereka kebingungan mencari jalan keluar sebagai langkah untuk mengembangkan daya pikir mereka.

Sebagai generasi muda penerus, pemikiran-pemikiran baru tentunya akan banyak berkembang. Tanpa disadari atau tidak akan membawa gejala pergeseran budaya yang tentunya ke arah pembaruan. Aspirasi budaya yang berkembang seringkali disesuaikan dengan pikiran mereka di masa ini. Memang bukan sesuatu hal yang mudah tapi tidak menutup kemungkinan semua itu akan terjadi.

Menanggapi aspirasi-aspirasi tersebut maka Front Budaya Godong Kelor Indonesia akan segera mendeklarasikan pembentukan Front 1 Banjarmasin yang sampai saat ini telah memasuki 70% tahap persiapannya. Semoga dapat menjadi inspirasi dan penambah gairah dalam berkesenian dan berkebudayaan di Banjarmasin pada khususnya serta Indonesia pada umumnya.

21 Oktober 2008

 
Front Budaya Godong Kelor Indonesia - Wordpress Themes is proudly powered by WordPress and themed by Mukkamu Templates Novo Blogger