Lamut memang tidak sepopuler "Mamanda" yang terkenal karena John Tralala beserta anaknya Hendra trilili -begitulah sang bapak memperkenalkan nama untuk sang anaknya pada suatu ketika di acara "Bandjarbaroe Tempoe Doeloe" yang diadakan Front 1 Banjarbaru tempo lalu. Keberadaan kesenian khas daerah Kalimantan Selatan ini seolah-olah hanya menjadi sebuah nama saja. Peranan pemerintah sebagai mediator dalam pelestarian budaya terkesan sangat lamban. Memang perlu sebuah keberanian dan tekad serta pengorbanan yang cukup besar untuk dapat mengangkat kembali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Lamut -dan tentunya modal yang tidak sedikit pula-. Peran serta masyarakat secara umum dan generasi muda pada khususnya juga merupakan faktor yang paling vital dalam rangka ikut melestarikan budaya ini.
Berbagai kegiatan pun akhirnya diselenggarakan. Salah satunya yaitu forum diskusi yang bertajuk Diskusi dan Revitalisasi Sastra Lisan "Lamut" dengan tema "Sebagai Wujud Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Seni dan Budaya Indonesia yang Maju, Dinamis, Cerdas dan Berwawasan. TIdak tanggung-tanggung, acara ini di bawah label Depbudpar RI. Lamut pun akhirnya terperhatikan, Kai Djamhar pun bisa tersenyum di balik keriput pipinya yang masih enak untuk dilihat.
Djamhari beliau bernama, Kai Djamhar saya menyebutnya. Beliau adalah seorang pewaris yang merupakan garis keturunan pencipta Lamut. Kesenian ini sudah lahir pada tahun 1816 dan merupakan salah satu sastra lisan yang menggunakan bahasa Banjar yang patut untuk diteliti keberadaannya secara spesifik.
Dilain waktu akan kita bahas kesenian ini secara lebih detail
Lamut Dalam Perjalanannya di Era Global
Diposting oleh Front Budaya Godong Kelor di 22.41
Label: kesenian banjar, lamut
0 Comments:
Post a Comment