Puasa dan Seni

Marhaban Ya Ramandhan....
Aura-Mu menunjukkan Keagungan dan Kebesaran sebuah rasa.

Ya, sebuah rasa. Sebuah seni tentunya identik dengan sebuah rasa. Nilai seni selalu saja dinilai dengan rasa. Tidak ada yang pasti dalam penilai seni. Semua relatif karena besar kecilnya ditentukan oleh rasa.

Berbicara tentang rasa. Yang dimaksudkan disini tentunya adalah indera yang ada di tubuh kita baik itu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan perasa. Selama yang kurasakan ditiap bulan Ramadhan, semua indera tersebut menjadi lebih aktif bila dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Sinyal yang diterima syaraf mendapat respon lebih besar. Secara gamblang saya memang tidak bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Hanya itu yang dapat saya rasakan.

Sebuah karya seni baik musik, rupa, tari, teater, dan sebagainya direspon oleh tubuh melewati indera. Respon tersebut akan disalurkan ke pusat syaraf yaitu otak dan akan dikembalikan dalam bentuk reaksi tubuh dan juga reaksi pikiran/imajinasi. Nah, hal inilah sehingga sebuah karya seni dapat dinilai. Dikarenakan rasa dari tiap-tiap individu berbeda maka tingkat penilaiannya pun juga tidak akan sama, relatif untuk tiap-tiap person.

Bulan puasa sebagai tempat latihan fisik dan rohani tentunya dapat dijadikan juga sebagai tempat untuk meningkatkan nilai rasa kita terhadap sebuah karya seni. Kenyataan yang paling dapat dilihat yaitu orang yang berpuasa menahan lapar imajinasinya dan daya pikirnya lebih kuat dibandingkan dengan orang yang kenyang (tidak puasa), walaupun memang kadang sedikit agak kacau. Ya seperti itu lah orang lapar. Kenyataan dilapangan, orang yang lapar akan lebih survive dibandingkan orang yang kenyang. Daya pikir dan respon terhadap pekerjaan -sebut saja mencari makanan- lebih besar. Tapi sayangnya respon tersebut hanya diarahkan untuk mencari makanan.

Melihat kenyataan tersebut kenapa kita sebagai penggiat dan pelakon seni secara perorangan tidak mencoba untuk melatih daya pikir dan imajinasi agar dapat meningkatkan nilai rasa dalam tubuh kita terhadap sebuah seni. Kita bisa mencoba untuk mengalihkan pikiran kita terhadap lapar dahaga dan memfokuskan pikiran kita kepada sebuah nilai (rasa) seni. Mungkin dengan begitu dapat meningkatkan nilai rasa kita terhadap sebuah karya seni. InsyaAllah !

Sesungguhnya Allah SWT telah menunjukkan kepada manusia sebuah karya seni yang Maha Sempurna yaitu alam semesta beserta isinya, serta semua makhluk hidup yang berada di dalamnya dan manusia yang terlalu asik mencipta, berusaha menjadi yang terbaik hingga terkadang lupa bahwa ada yang lebih terbaik dari seluruh cipta manusia. Mudah-mudahan dengan hikmah bulan Ramadhan kita dapat kembali menjadi manusia seutuhnya dan menjadi pencipta yang selalu ingat akan Penciptanya. Amin

Selamat Berpuasa...!!!

02 September 2008

0 Comments:

 
Front Budaya Godong Kelor Indonesia - Wordpress Themes is proudly powered by WordPress and themed by Mukkamu Templates Novo Blogger