TEATER JANGAN SEKEDAR PILIHAN DAN EKSTRAKURIKULER

Diari Budaya : Shah Kalana al-Lailla Haji

DIARI BUDAYA ;


Kebanggaan menjadi seorang pemain (aktor, aktris) teater di negeri kita tidaklah sama dengan kebanggaan orang-orang di negara yang seni pertunjukan teaternya sudah sangat membumibudaya dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

SUATU ketika saya berbincang dengan seorang tokoh teater tradisional di Kota Banjarbaru (ini), beliau mengeluhkan kondisi di institusinya yang nyaris kehilangan kader penerus teater tradisional yang telah digarapnya bertahun-tahun. Tampaknya minat masyarakat khususnya, pemuda dan pelajar makin hari semakin lenyap dalam kehidupan budaya daerah kita. Ini macam perbincangan romantis yang penuh curhat dan keluh kesah tapi sungguh sangat tragis terdengar. Bagaimana tidak? Beliau saja yang pendidik dan memiliki institusi dengan segala potensi yang memungkin untuk digarap, seperti, potensi siswa-siswi dari latar belakang yang beragam dari sekolah terdahulu (SMP), potensi guru-guru pengajar dan karyawan yang mereka dapat semasa pendidikan dan kuliahnya, independensi institusi dengan segala peraturan yang dibuat untuk kemudahan, keuntungan dan keberhasilan bersangkutan. (Tetapi) itu semua seperti tidak berarti apa-apa. Potensi yang ada, semacam lenyap ditelan oleh program-program pencapaian target pendidikan nasional yang utama yaitu, nilai rata-rata nasional dan regional, hingga tidak ada waktu lagi untuk bergelut dengan kegiatan yang lain, selain berkutat dengan rutinitas belajar mengajar mata pelajaran sampai pada titik darah penghabisan, demi target! Kasihan para guru dan pendidik mereka semata dituntut untuk mengantarkan siswanya berhasil di bidang mata pelajaran, untuk itu mereka berusaha keras tanpa basa–basi menoleh kiri-kanan. Tetapi, ketika terjadi kegagalan siswanya di bidang budaya dan kebudayaan, maka yang dituding untuk jadi pencundang dan kambing hitam tidak lain adalah para guru dan pendidik itu juga.Bukankah ini sebuah “tragedi oemar bakrie?”

Kasus ini sebenarnya sudah lama sekali terjadi dari masa kemasa dari waktu ke waktu dari pemerintahan satu ke pemerintahan yang baru. Semua selalu terjadi dan terulang berulang-ulang. Entah apa yang dipikirkan para penguasa selama ini. Tujuan apa yang sesungguhnya hendak dicapai. Sangat misterius sekali. Bingungkan? Bagaimana tidak? Kalau pola dan manajemen pendidikan yang selama negeri ini mencapai kemerdekaan belum menemukan bentuk yang pas dan cocok untuk bangsanya sendiri. Aneh bukan?! Belum lagi seabreg beragam mata pelajaran wajib yang dipelajarkan, membuat siswa didik tidak bisa menentukan keahlian apa yang hendak dicapai atau dicita-citakannya kelak. Keinginannya jadi ambigu, bahkan gagu, karena tidak adanya sarana penyaluran bakat sejak dini di lembaga sekolah, kecuali kursus-—dengan biaya mahal—-pastinya hanya untuk masyarakat mampu dan berlebihan. Lebih aneh lagi, anggaran pendidikan yang disediakan selalu lebih kecil untuk biaya gaji pejabat pemerintah dan kredit bagi cukong dan konglomerat. Sungguh ini suatu perhitungan yang keliru atukah memang tidak diperhitungkan? Jika benar, maka ada kemungkinan masalah ini disengaja, dan abadi, karena demi uang dan keuntungan, pribadi dan kelompok. Demi menyelamatkan dapur pejabat tetap ngebul, maka dapur pendidikan rakyat jadi tumbal. Sebab manipulasi lewat jalur pendidikan daya korupsinya lebih mudah, murah, cepat dan aman. Mana ada kurupsi di jalur ini (pendidikan-pen.) yang dapat, sempat, diketahui dan digugat oleh rakyat. Karena rakyat sibuk untuk mencari uang, makan dan biaya hidup dengan tingkat pendidikan yang rendah. Sekali lagi selain guru dan pendidik, rakyat pun jadi pecundang oleh manajemen pendidikan negeri ini. Bagaimana bisa maju kalau fenomena ini dibiarkan seperti yang telah dan tengah terjadi macam sekarang? Percayakah anda bahwa ini sangat tragis, mengerikan dan aneh bukan?!

Bagaimana dengan tokoh kita tadi yang sedang dibelit dengan kebingungan terhadap kondisi siswanya yang tidak tertarik pada kesenian teater tradisional yang digarapnya? Dengan keadaan seperti ini sang tokoh seperti kehilangan percaya diri, lesu darah, patah sayap dan kecewa. Tapi apa daya birokrasi telah menjamin keadaan demikian tetap berjalan dan tidak bisa dihindari. Dilematis, membingungkan, aneh dan jadi tidak lucu bila kondisi ini dibiarkan dan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi dekadensi, erosi, degradasi, abrasi budaya, yaitu, dimana hilangnya ciri identitas kepribadian bangsa dan kemudian berkembangnya kepribadian imitasi yang menjelma ditengah masyarakat yang tidak mengenal identitasnya sendiri(missing personality). Lalu apa jadinya, bila bangsa ini telah kehilangan jati dirinya sendiri? Pastilah ia tidak mempunyai ketetapan pendirian dan hanya selalu mengikuti apa kata orang (asing) dan gampang didekti, seperti herder dirantai emas, mewah, galak, tapi tetap saja takluk pada perintah majikan, walau disuruh menggigit saudara, dan anak sendiri! Dan ini telah terjadi? (SKA)

27 Agustus 2008

0 Comments:

 
Front Budaya Godong Kelor Indonesia - Wordpress Themes is proudly powered by WordPress and themed by Mukkamu Templates Novo Blogger