Salam Frontier...!!!
Puji syukur atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa hingga akhirnya Front Budaya Godong Kelor dapat berdiri di kota Banjarmasin. Tepatnya tanggal 22 November 2006 pukul 08.00 wita.
Bertempat di Komplek Pondok Kelapa RT 13 No. 16 Kelurahan Sungai Miai, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70123. Dihadiri sebanyak 22 orang yang mayoritas terdiri daro para pemuda dan seniman.
Sebagaimana diungkapkan oleh koordinator pembentukan, yaitu saudara Habiburrakhman, Godong Kelor Banjarmasin akan tetap konsisten dijalur budaya dengan berprinsip dimana bumi dipijak maka disitu langit dijunjung. Maksudnya dimanapun Godong Kelor berdiri maka budaya disitulah yang akan dihidupkan. Langkah pertama yang dilakukan tentunya adalah berupa pengkaderan. Hal ini dilakukan untuk melahirkan insan-insan muda bertanggung jawab, jujur dan berani dalam setiap perilaku sehari-hari, toleransi dan solidaritas tinggi serta ber-akhlakul karimah.
Pada acara ini juga dihadiri oleh Front Indonesia yang diwakili oleh saudara Muhammad Maskur selaku sekretaris dan tiga orang staf yaitu ; Mahendra Tri Setya, M. Jauhar Fuadi dan Putra Canada Iriansyah.
Dengan berdirinya lembaga ini di kota Banjarmasin diharapkan dapat ikut serta dalam menghidupkan dan meramaikan khazanah budaya-budaya yang ada di kota ini.
Kelahiran Front 1 Banjarmasin
Diposting oleh Front Budaya Godong Kelor di 22.16 1 komentar
Label: front 1 banjarmasin
Lamut Dalam Perjalanannya di Era Global
Lamut memang tidak sepopuler "Mamanda" yang terkenal karena John Tralala beserta anaknya Hendra trilili -begitulah sang bapak memperkenalkan nama untuk sang anaknya pada suatu ketika di acara "Bandjarbaroe Tempoe Doeloe" yang diadakan Front 1 Banjarbaru tempo lalu. Keberadaan kesenian khas daerah Kalimantan Selatan ini seolah-olah hanya menjadi sebuah nama saja. Peranan pemerintah sebagai mediator dalam pelestarian budaya terkesan sangat lamban. Memang perlu sebuah keberanian dan tekad serta pengorbanan yang cukup besar untuk dapat mengangkat kembali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Lamut -dan tentunya modal yang tidak sedikit pula-. Peran serta masyarakat secara umum dan generasi muda pada khususnya juga merupakan faktor yang paling vital dalam rangka ikut melestarikan budaya ini.
Berbagai kegiatan pun akhirnya diselenggarakan. Salah satunya yaitu forum diskusi yang bertajuk Diskusi dan Revitalisasi Sastra Lisan "Lamut" dengan tema "Sebagai Wujud Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Seni dan Budaya Indonesia yang Maju, Dinamis, Cerdas dan Berwawasan. TIdak tanggung-tanggung, acara ini di bawah label Depbudpar RI. Lamut pun akhirnya terperhatikan, Kai Djamhar pun bisa tersenyum di balik keriput pipinya yang masih enak untuk dilihat.
Djamhari beliau bernama, Kai Djamhar saya menyebutnya. Beliau adalah seorang pewaris yang merupakan garis keturunan pencipta Lamut. Kesenian ini sudah lahir pada tahun 1816 dan merupakan salah satu sastra lisan yang menggunakan bahasa Banjar yang patut untuk diteliti keberadaannya secara spesifik.
Dilain waktu akan kita bahas kesenian ini secara lebih detail
31 Oktober 2008
Diposting oleh Front Budaya Godong Kelor di 22.41 0 komentar
Label: kesenian banjar, lamut
Tekicak is Back

Salam Frontier...!!!
Setelah beberapa bulan istirahat, Teater Kisah Kocak (Tekicak) akhirnya datang kembali menghibur dan meramaikan kota Banjarbaru.
Sanggar Sang Fajar SMKN2 Banjarbaru bekerja sama dengan Sanggar Ketapang, Sanggar X-Surya serta sanggar-sanggar lainnya, di bawah asuhan Gerombolan Anak Bawah Ketapang - Front Budaya Godong Kelor (Front 1 Banjarbaru) kembali menyelenggarakan Teater Kisah Kocak (Tekicak) di Taman Air Mancur, Kota Banjarbaru. Tema cerita yang disampaikan kali ini masih seputar kehidupan Mc. Adut dan kawan-kawan di desa Guntung Rongkang. Bercerita tentang Pambakal (Kepala Desa) yang sengaja menaikkan ongkos pembuatan KTP hanya untuk menambah modal untuk mendekati seorang gadis incaran si Pembakal, padahal si Pembakal sudah memiliki isteri. Tapi tentu saja pada akhirnya kelakuan si Pembakal diketahui oleh Mc. Adut dan teman-temannya sekampung. Bukan itu saja Si Pembakal juga harus berhadapan dengan isterinya sendiri.
Cerita tadi tentu saja disajikan dengan suasana kocak dan penuh canda. Keseriusan yang disampaikan mampu diapresiasikan penonton sebagai sebuah tontonan yang menghibur dan mengocok perut. Maka gelak tawa pun pecah membelah ramainya suara-suara knalpot kendaraan bermotor.
Apresiasi yang ditampilkan oleh segerombolan anak-anak muda di Taman Air Mancur ini merupakan sebuah karya yang tentunya harus menjadi perhatian bagi kita semua. Walaupun terkesan sederhana tapi keberadaan mereka sudah mampu membuktikan bahwa denyut nadi berkesenian di Kota Banjarbaru akan terus hidup. Keberanian mereka bersaing di tengah ramainya pergaulan anak-anak muda sekarang, patut di acungi jempol. Mereka tidak malu bersaing dengan para skater atau dancer. Apa yang dilakukan mereka menunjukkan suatu harapan besar akan sebuah kehidupan seni dan budaya di Banjarbaru
Semoga kegiatan ini dapat terus menjadi sebuah ikon baru bagi Kota Banjarbaru dan dapat membantu pemerintah kota di bidang pariwisata.
26 Oktober 2008
Diposting oleh Front Budaya Godong Kelor di 22.14 2 komentar
Label: godong kelor, tekicak
Persiapan Pembentukan
Salam Frontier
Menelusuri Kota Banjarmasin pada bulan kedua. Banyak hal yang baru di sini, walaupun kenyataannya lama. Ternyata antusias para pemuda dengan budaya di kota ini cukuplah besar, hanya saja sebagian dari mereka kebingungan mencari jalan keluar sebagai langkah untuk mengembangkan daya pikir mereka.
Sebagai generasi muda penerus, pemikiran-pemikiran baru tentunya akan banyak berkembang. Tanpa disadari atau tidak akan membawa gejala pergeseran budaya yang tentunya ke arah pembaruan. Aspirasi budaya yang berkembang seringkali disesuaikan dengan pikiran mereka di masa ini. Memang bukan sesuatu hal yang mudah tapi tidak menutup kemungkinan semua itu akan terjadi.
Menanggapi aspirasi-aspirasi tersebut maka Front Budaya Godong Kelor Indonesia akan segera mendeklarasikan pembentukan Front 1 Banjarmasin yang sampai saat ini telah memasuki 70% tahap persiapannya. Semoga dapat menjadi inspirasi dan penambah gairah dalam berkesenian dan berkebudayaan di Banjarmasin pada khususnya serta Indonesia pada umumnya.
21 Oktober 2008
Diposting oleh Front Budaya Godong Kelor di 20.23 0 komentar
Label: front 1 banjarmasin
Puasa dan Seni
Marhaban Ya Ramandhan....
Aura-Mu menunjukkan Keagungan dan Kebesaran sebuah rasa.
Ya, sebuah rasa. Sebuah seni tentunya identik dengan sebuah rasa. Nilai seni selalu saja dinilai dengan rasa. Tidak ada yang pasti dalam penilai seni. Semua relatif karena besar kecilnya ditentukan oleh rasa.
Berbicara tentang rasa. Yang dimaksudkan disini tentunya adalah indera yang ada di tubuh kita baik itu penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan perasa. Selama yang kurasakan ditiap bulan Ramadhan, semua indera tersebut menjadi lebih aktif bila dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Sinyal yang diterima syaraf mendapat respon lebih besar. Secara gamblang saya memang tidak bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Hanya itu yang dapat saya rasakan.
Sebuah karya seni baik musik, rupa, tari, teater, dan sebagainya direspon oleh tubuh melewati indera. Respon tersebut akan disalurkan ke pusat syaraf yaitu otak dan akan dikembalikan dalam bentuk reaksi tubuh dan juga reaksi pikiran/imajinasi. Nah, hal inilah sehingga sebuah karya seni dapat dinilai. Dikarenakan rasa dari tiap-tiap individu berbeda maka tingkat penilaiannya pun juga tidak akan sama, relatif untuk tiap-tiap person.
Bulan puasa sebagai tempat latihan fisik dan rohani tentunya dapat dijadikan juga sebagai tempat untuk meningkatkan nilai rasa kita terhadap sebuah karya seni. Kenyataan yang paling dapat dilihat yaitu orang yang berpuasa menahan lapar imajinasinya dan daya pikirnya lebih kuat dibandingkan dengan orang yang kenyang (tidak puasa), walaupun memang kadang sedikit agak kacau. Ya seperti itu lah orang lapar. Kenyataan dilapangan, orang yang lapar akan lebih survive dibandingkan orang yang kenyang. Daya pikir dan respon terhadap pekerjaan -sebut saja mencari makanan- lebih besar. Tapi sayangnya respon tersebut hanya diarahkan untuk mencari makanan.
Melihat kenyataan tersebut kenapa kita sebagai penggiat dan pelakon seni secara perorangan tidak mencoba untuk melatih daya pikir dan imajinasi agar dapat meningkatkan nilai rasa dalam tubuh kita terhadap sebuah seni. Kita bisa mencoba untuk mengalihkan pikiran kita terhadap lapar dahaga dan memfokuskan pikiran kita kepada sebuah nilai (rasa) seni. Mungkin dengan begitu dapat meningkatkan nilai rasa kita terhadap sebuah karya seni. InsyaAllah !
Sesungguhnya Allah SWT telah menunjukkan kepada manusia sebuah karya seni yang Maha Sempurna yaitu alam semesta beserta isinya, serta semua makhluk hidup yang berada di dalamnya dan manusia yang terlalu asik mencipta, berusaha menjadi yang terbaik hingga terkadang lupa bahwa ada yang lebih terbaik dari seluruh cipta manusia. Mudah-mudahan dengan hikmah bulan Ramadhan kita dapat kembali menjadi manusia seutuhnya dan menjadi pencipta yang selalu ingat akan Penciptanya. Amin
Selamat Berpuasa...!!!
02 September 2008
Diposting oleh Front Budaya Godong Kelor di 11.44 0 komentar
Label: puasa_seni
TEATER JANGAN SEKEDAR PILIHAN DAN EKSTRAKURIKULER
DIARI BUDAYA ;
Kebanggaan menjadi seorang pemain (aktor, aktris) teater di negeri kita tidaklah sama dengan kebanggaan orang-orang di negara yang seni pertunjukan teaternya sudah sangat membumibudaya dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
SUATU ketika saya berbincang dengan seorang tokoh teater tradisional di Kota Banjarbaru (ini), beliau mengeluhkan kondisi di institusinya yang nyaris kehilangan kader penerus teater tradisional yang telah digarapnya bertahun-tahun. Tampaknya minat masyarakat khususnya, pemuda dan pelajar makin hari semakin lenyap dalam kehidupan budaya daerah kita. Ini macam perbincangan romantis yang penuh curhat dan keluh kesah tapi sungguh sangat tragis terdengar. Bagaimana tidak? Beliau saja yang pendidik dan memiliki institusi dengan segala potensi yang memungkin untuk digarap, seperti, potensi siswa-siswi dari latar belakang yang beragam dari sekolah terdahulu (SMP), potensi guru-guru pengajar dan karyawan yang mereka dapat semasa pendidikan dan kuliahnya, independensi institusi dengan segala peraturan yang dibuat untuk kemudahan, keuntungan dan keberhasilan bersangkutan. (Tetapi) itu semua seperti tidak berarti apa-apa. Potensi yang ada, semacam lenyap ditelan oleh program-program pencapaian target pendidikan nasional yang utama yaitu, nilai rata-rata nasional dan regional, hingga tidak ada waktu lagi untuk bergelut dengan kegiatan yang lain, selain berkutat dengan rutinitas belajar mengajar mata pelajaran sampai pada titik darah penghabisan, demi target! Kasihan para guru dan pendidik mereka semata dituntut untuk mengantarkan siswanya berhasil di bidang mata pelajaran, untuk itu mereka berusaha keras tanpa basa–basi menoleh kiri-kanan. Tetapi, ketika terjadi kegagalan siswanya di bidang budaya dan kebudayaan, maka yang dituding untuk jadi pencundang dan kambing hitam tidak lain adalah para guru dan pendidik itu juga.Bukankah ini sebuah “tragedi oemar bakrie?”
Kasus ini sebenarnya sudah lama sekali terjadi dari masa kemasa dari waktu ke waktu dari pemerintahan satu ke pemerintahan yang baru. Semua selalu terjadi dan terulang berulang-ulang. Entah apa yang dipikirkan para penguasa selama ini. Tujuan apa yang sesungguhnya hendak dicapai. Sangat misterius sekali. Bingungkan? Bagaimana tidak? Kalau pola dan manajemen pendidikan yang selama negeri ini mencapai kemerdekaan belum menemukan bentuk yang pas dan cocok untuk bangsanya sendiri. Aneh bukan?! Belum lagi seabreg beragam mata pelajaran wajib yang dipelajarkan, membuat siswa didik tidak bisa menentukan keahlian apa yang hendak dicapai atau dicita-citakannya kelak. Keinginannya jadi ambigu, bahkan gagu, karena tidak adanya sarana penyaluran bakat sejak dini di lembaga sekolah, kecuali kursus-—dengan biaya mahal—-pastinya hanya untuk masyarakat mampu dan berlebihan. Lebih aneh lagi, anggaran pendidikan yang disediakan selalu lebih kecil untuk biaya gaji pejabat pemerintah dan kredit bagi cukong dan konglomerat. Sungguh ini suatu perhitungan yang keliru atukah memang tidak diperhitungkan? Jika benar, maka ada kemungkinan masalah ini disengaja, dan abadi, karena demi uang dan keuntungan, pribadi dan kelompok. Demi menyelamatkan dapur pejabat tetap ngebul, maka dapur pendidikan rakyat jadi tumbal. Sebab manipulasi lewat jalur pendidikan daya korupsinya lebih mudah, murah, cepat dan aman. Mana ada kurupsi di jalur ini (pendidikan-pen.) yang dapat, sempat, diketahui dan digugat oleh rakyat. Karena rakyat sibuk untuk mencari uang, makan dan biaya hidup dengan tingkat pendidikan yang rendah. Sekali lagi selain guru dan pendidik, rakyat pun jadi pecundang oleh manajemen pendidikan negeri ini. Bagaimana bisa maju kalau fenomena ini dibiarkan seperti yang telah dan tengah terjadi macam sekarang? Percayakah anda bahwa ini sangat tragis, mengerikan dan aneh bukan?!
Bagaimana dengan tokoh kita tadi yang sedang dibelit dengan kebingungan terhadap kondisi siswanya yang tidak tertarik pada kesenian teater tradisional yang digarapnya? Dengan keadaan seperti ini sang tokoh seperti kehilangan percaya diri, lesu darah, patah sayap dan kecewa. Tapi apa daya birokrasi telah menjamin keadaan demikian tetap berjalan dan tidak bisa dihindari. Dilematis, membingungkan, aneh dan jadi tidak lucu bila kondisi ini dibiarkan dan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi dekadensi, erosi, degradasi, abrasi budaya, yaitu, dimana hilangnya ciri identitas kepribadian bangsa dan kemudian berkembangnya kepribadian imitasi yang menjelma ditengah masyarakat yang tidak mengenal identitasnya sendiri(missing personality). Lalu apa jadinya, bila bangsa ini telah kehilangan jati dirinya sendiri? Pastilah ia tidak mempunyai ketetapan pendirian dan hanya selalu mengikuti apa kata orang (asing) dan gampang didekti, seperti herder dirantai emas, mewah, galak, tapi tetap saja takluk pada perintah majikan, walau disuruh menggigit saudara, dan anak sendiri! Dan ini telah terjadi? (SKA)
27 Agustus 2008
Diposting oleh Front Budaya Godong Kelor di 15.43 0 komentar
Label: ekstrakurikuler, teater